Skip to main content

Posts

Ten Things That Stuck With Me After Watching an Interview with Morgan Housel

I recently watched an interview between Chris Williamson and Morgan Housel. I did not expect to take notes, but I did anyway. The conversation drifted from relationships to housing, to legacy. It felt like someone calmly pointing at how humans actually behave. These are the ten ideas that stayed with me after the video ended. I am writing them down so I can come back to them later. 1. People Remember You by How You Make Them Feel One of the earliest and most understated points in the interview is also one of the most powerful: people remember you by how you make them feel, not by how impressive you are. Psychological research consistently shows that people enjoy conversations where they talk more, not where the other person performs better. Studies on active listening demonstrate that remembering names, asking thoughtful follow-up questions, and showing genuine curiosity create stronger social bonds than wit or intelligence. Neuroscience adds another layer: talking about oneself activa...
Recent posts

Embracing Long-Form Conversations: My Thoughts on Daniel Priestley and Steven Bartlett’s Insights

Hello everyone! Happy 2025! I hope you’re doing well. Today, I want to share my personal reflections on an interesting conversation between Daniel Priestley and Steven Bartlett from The Diary of a CEO . They discussed why podcasts and long-form, unscripted content are becoming so popular. This topic is definitely outside of my usual day-to-day—after all, I don't own a company, nor do I work in broadcasting. I’m a cook, but I still find this discussion very insightful. You can access the full video here . *** Why Do People Want Longer Content? We live in a world full of quick social media updates, be it in the form of shorts, reels, or something else. Personally, I enjoy the convenience of bite-sized videos. I can't deny that it feels so satisfying and entertaining at the same time (more on this maybe next time). But I’ve also noticed that short clips often lack depth. Daniel suggests that, because there’s so much confusion and debate about “misinformation,” people want longer, ...

Terus dan terus.

Kemana hidup ini harus kubawa? Kekecewaan datang dan pergi. Begitu pula kecintaan. Yang mana yang harus kupercaya? Ada keputusan, ada ketakutan. Ada komitmen, ada kebingungan. Dimana ada harapan, disitu ada kekecewaan. Dimana ada tekad, disitu ada godaan. Dimana ada kekecewaan, disitu ada harapan. Akankah aku bertahan? Berapa lama harus aku bertahan? Berapa lama harus aku percaya? Tujuh kali tujuh ratus tujuh puluh tujuh? Sampai jelas. Sampai mati dan hidup lagi. Sampai nyata.

Day 30: My Childhood Ambition

Write about your childhood ambition. Image by Vecstock on Freepik Sejujurnya, aku tidak ingat mimpi apa yang kutulis di katalog kelulusan SD. Tapi ada satu mimpi yang pernah muncul di benakku saat SMA. Aku pernah ingin menjadi seorang pianis. Aku mulai belajar musik sejak SD, saat itu, aku memainkan organ. Aku mempelajari adanya konsep kunci-kunci dasar yang dapat kuhapalkan. Tapi dengan belajar dari kecil, bukan berarti aku menjadi seorang prodigy . Udah nggak pandai, masih malas pula kalo disuruh latihan. Kemudian beranjak SMA, aku mulai les piano dan memainkan beberapa lagu yang lebih sulit dari pada yang kumainkan saat SD. Aku juga melalui tes ABRSM ( Associated Board of the Royal Schools of Music ) grade 3 saat itu. Masih belum terlalu jauh, tapi melalui tes ABRSM memberiku sedikit trauma dengan musik. Aku lulus ujian dengan nilai merit , yaitu nilai dibawah distinction . Tapi untuk meraih nilai itu aku harus mengorbankan banyak hal. Banyak waktu yang terpakai karena aku over...

Day 29: Who and What Adds Meaning

Who and what adds meaning to your life. Agustus, 2023 Tentunya sulit untuk menunjuk hanya satu orang saja. Orang-orang disekitarku selalu menambah meaning dalam hidupku. Sebagian besar datang dan pergi, terkadang kembali, kemudian hilang lagi. Apalagi semakin dewasa dan bertambah usia, sepertinya teman-teman semakin punya kesibukan. Termasuk aku sendiri. Jadi ujung-ujungnya hanya menyapa tipis-tipis di media sosial. Tapi nggak apa-apa, meskipun begitu, aku percaya setiap orang memiliki “fungsi”-nya masing-masing dalam hidupku. Mungkin aku nggak sadar makna kehadirannya pada waktu itu dan baru ngeh setelah beberapa tahun berlalu, atau mungkin saat ini sudah nggak ngobrol, tapi masih terkadang kontakan sedikit-sedikit. Ada banyak faktor yang menentukan peran seseorang dalam hidupku. Jadi, jika ditanya ‘siapa’, tentunya tergantung dari musim hidup yang sedang kujalani. Setiap musim, pemerannya berbeda-beda. Aku hampir selalu belajar sesuatu dari setiap orang yang kutemui, dan sedikit demi...

Day 28: Where to Travel Next

Where do you wish to travel next? Image by pikisuperstar on Freepik Ada banyak negara yang ingin kukunjungi. Jika harus memilih, dengan kondisi uang dan waktu tidak menjadi masalah, aku akan memilih: Israel. Tujuannya untuk ziarah, bonus jalan-jalan. Aku selalu memiliki curiosity khusus tentang kepercayaanku. Mempunyai kesempatan untuk mempelajari dan mendatangi tempat-tempat suci secara langsung adalah salah satu keinginanku. Akan lebih mantap kalo bisa sekaligus jalan-jalan dari Maroko, mampir ke salah satu gurun pasir terbesar di dunia untuk mungkin berkemah dan melihat bintang-bintang saat malam, kemudian dilanjutkan ke Algeria dan Tunisia, melihat berbagai bangunan-bangunan kuno, lalu Mesir, tentu saja mampir ke piramida yang terkenal itu, kemudian Israel untuk ziarah, dan berakhir di Jordan. Tapi, jika mau lebih realistis, dengan pertimbangan waktu dan uang, sepertinya saat ini New Zealand yang lebih masuk akal. Karena lokasiku saat ini lebih dekat untuk kesana, jadi aku tidak pe...

Day 27: A Gift that I Cherish

Write about a gift you have always cherished. Image by Freepik Hadiah yang paling berkesan buatku adalah sebuah iPhone. Bukan karena mahalnya, tapi karena alasan dibalik hadiah itu. It's a thoughtful gift . Tahun 2021, meskipun pandemi sudah sedikit lebih reda, tapi mobilitas rakyat masih belum kembali seperti sebelumnya. Saat masuk ke mall contohnya, aku masih harus membuka aplikasi “PeduliLindungi”, supaya bisa scan kehadiranku sebelum masuk. Yang menyedihkan adalah hapeku saat itu sudah cukup tua, untuk mengakses aplikasi PeduliLindungi saja hampir tidak mampu. Dan ketika mampu, it’s gonna take like 5 minutes just to load the app . Kemudian akhir tahun 2021, saat mas patjar sudah pindah ke Jakarta, aku pergi ke mall bersama dia dan mungkin karena kelamaan LDR, dia nggak ngeh dengan hapeku yang lemot. Jadi setelah itu, dia berusaha untuk memperbaiki hapeku, tapi tidak berhasil. Besoknya, dia mengajakku untuk membeli hape. Dan yang berkesan buatku adalah spontanitas dia dibalik i...