Skip to main content

Jadi Sukarelawan di Singapore Red Cross (SRC)

Halo semuanya,
gile. Udah hampir dua bulan aku nggak pernah nge post apa-apa. Padahal artikel ini sudah kubuat sejak awal bulan ini, lho.
Well, akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan pengalamanku menjadi sukarelawan di Singapura. Semoga pengalamanku ini bisa berguna buat temen-temen yang mau coba-coba jadi sukarelawan juga disini.

Image from: Google Images.
Jadi, semuanya berawal ketika salah seorang temanku mengajak untuk bergabung dalam acara penggalangan dana yang diadakan SRC. Saat itu juga, aku membuka link yang diberikan temanku. Ada tiga pilihan tugas yang tersedia. Pertama, flag bearer, dimana mengemban tugas untuk penggalangan dana itu sendiri. Orang-orang ini yang akan berkeliling ke tempat-tempat tertentu di seluruh Singapore untuk mendapatkan donasi dari para pejalan kaki, misalnya.

Image from: Google Images.
Yang kedua, menjadi event helper di bagian counting center, tugasnya menghitung donasi yang didapatkan. Yang ketiga, menjadi event helper di bagian logistic. Tugasnya yaitu membantu memindahkan kaleng-kaleng sumbangan yang dibawa-bawa oleh flag bearer tadi ke tempat-tempat yang diperlukan.

Setelah berdiskusi sebentar, akhirnya kita memutuskan untuk memilih yang ketiga, logistic. Tersedia dua pilihan jam. Dari jam 8am-3pm (AM shift) dan dari jam 2pm-10pm (PM shift). Kudaftarkan namaku di shift pagi, dan tinggal menunggu saja pesan dari pihak SRC.
Kira-kira lima hari setelah aku mendaftarkan diri, SRC mengirimkan email yang menyatakan konfirmasi bahwa aku telah mendaftarkan diri untuk menjadi sukarelawan di bagian logistic.
Empat hari sebelum hari H, SRC mengirimkan sebuah email lagi. Kali ini mengenai penjelasan lebih lanjut tentang apa yang akan dilakukan disana, dan dimana.

Dan akhirnya, hari H (6 Maret 2016). Aku bangun pagi-pagi sekali (buatku pagi banget), jam enam. Di Singapura, jam enam masih gelap, seperti jam lima-nya di Indonesia. Jadi, jam tujuh pagi baru mulai terang gitu langitnya. Hehe. Dengan ngantuk-ngantuk, aku membuat sandwich, seperti biasa. Kuambil dua helai roti tawar, kupecahkan sebutir telur diatasnya, dan kumatangkan menggunakan microwave. Sembari menunggu, aku mencuci sayur, dan mengambil sehelai keju. Setelah telur diatas roti itu matang, kuolesi mayonnaise dan sambal diatasnya, dan kuletakkan sayur-sayur yang telah kucuci tadi. Terakhir, kuletakkan keju diatas sayur segar tadi. Sebelum kulahap, sekali lagi, sandwich kumasukkan ke dalam microwave, supaya kejunya meleleh. Gimana? Deskripsinya sudah terlihat enak, belum?

- Couldn't load image. Too good to be seen. -

Setelah makan pagi, aku menyiapkan barang yang akan kubawa. Karena tertulis di email, untuk sebisa mungkin menghindari tas, jadi kuputuskan untuk membawa dompet dan HP saja. Setelah bersiap-siap, aku segera mengenakan sepatuku, dan berangkat menuju stasiun MRT Novena. Aku telah berjanji pada temanku untuk bertemu disana jam 7:40 pagi. Sesampainya disana, ternyata tepat saat temanku juga baru datang. Jadi, kita bisa langsung berangkat, deh! Lokasi Red Cross House berada di daerah Dhoby Ghaut. Untunglah, lumayan dekat dengan Novena, pikirku.
Begitu sampai di rumah tersebut, kita langsung menuju ke resepsionis dan mencari Ms. Yong untuk registrasi ulang. Kulihat banyak staff yang mengenakan pakaian berwarna putih dengan red cross di bagian punggung, dan ternyata, setelah registrasi, Ms. Yong memberi kami baju tersebut. Dia meminta kita untuk mengganti pakaian.
Setelah berganti baju, kita kembali ke ruangan dan menunggu sampai relawan lain datang. Sekitar jam 8 lebih, ada seorang paman yang memberikan briefing singkat pada kita. Jadi, tugas utama kita adalah membantu kelancaran jalannya program penggalangan dana ini. Kira-kira jam 8:30, sudah ada beberapa sukarelawan di ruangan yang sama dengan kita. Kemudian temanku ini memulai percakapan dengan mereka.
Seru sekali ngobrol dengan mereka, ada yang dari Filipina dan India. Mereka rupanya sudah lumayan aktif di organisasi ini. Sedangkan aku, masih berasa kayak "kawaii potato" disini. Bener-bener nggak ada gambaran apa-apa. All blur.
Setelah ngobrol beberapa saat, akhirnya dimulai juga kesibukan kita. Tugas yang paling kusukai adalah menumpuk kardus-kardus kosong. Aku diberi kewenangan untuk membuka lakban di bagian bawah kardus menggunakan silet, supaya kardus tersebut bisa dilipat dan ditumpuk. Temanku juga memiliki kewenangan lain, yaitu membuang kaleng-kaleng yang telah terpakai ke sebuah kontainer besar di lapangan parkir. Kita juga terkadang membantu pemindahan kardus berisi kaleng ke lantai dua, ke ruang penghitungan dana. Selama bekerja, ada juga saat dimana kita saling bercakap-cakap dan becanda ria satu sama lain. Hingga tak terasa, sudah jam 12. Saatnya makan siang!
Aku dan temanku memanggil teman-teman baru kita untuk istirahat. Kemudian aku mengambil 3 buah lunch set untuk diberikan pada temanku dan orang Filipina tadi. Sepasang orang India tadi sudah duduk, siap makan bersama di sebuah meja bundar di dalam ruangan. Jadi, kita berlima pun duduk melingkarinya. Menu makan siangnya adalah telur balado, ayam goreng dan nasi, lengkap dengan sambal tambahan.
Disaat lelah begitu, makanan apapun terasa enak. Jadi, setelah menghabiskan satu kotak, aku hampir mengambil kotak kedua. Untung aku masih tahu malu.

Saatnya kembali bekerja! Lipat semua kardus yang datang! Dan tiba-tiba, ada para pendatang baru (PM Shift). Mereka sukarelawan juga. Dan seperti biasa, aku sok-sok kenalan. Ada seorang wanita yang umurnya sekitar 25 tahun, dia datang dari Kazakhtan. Sepertinya sudah cukup lama tinggal di Singapura (lebih dari 5 tahun), tapi dia baru tahu ada kegiatan sukarelawan di Singapura.

"Astaga. Gue baru 4 bulanan disini, udah tahu. Untung ada temen gue," batinku.

Yeah. Jadi ngebayangin, seandainya nggak ada temenku ini, mungkin sampe aku lulus pun aku nggak bakal ikut ginian. 3 tahun yang sia-sia di Singapura.
Eits, tapi aku jadi belajar buat lebih aktif mencari kegiatan sendiri. Aku sadar, nggak boleh bergantung sama teman saja :)
Buat kalian yang juga lagi kuliah atau pun sekolah, aktiflah mencari kegiatan, karena inilah kesempatan kalian untuk mendapatkan berbagai pengalaman dan relasi sebanyak-banyaknya.
Jam menunjukkan pukul 2:30 siang. Kuputuskan untuk mengambil sekotak makanan lagi. Yaelah, ternyata rasa malu gue cuma bertahan dua jam. Ah, tapi nggak apa. Temanku juga ngambil lagi, kok *alibi*.
Akhirnya, tepat pukul 3 sore, seluruh AM Shift diperbolehkan untuk pulang. Dengan jus kotak di tangan, kuambil tas temanku di sebuah ruangan khusus. Kita pun pulang dengan perasaan damai di perut.

Kira-kira, begitulah pengalaman yang kualami. Sampai ketemu di post selanjutnya, ya!


Oh, ya.. Gue sekarang main Ask.fm nih! Boleh difollow: @kennicesetiadi   :D






Comments

Popular posts from this blog

Book Review: The Subtle Art of Not Giving a F*ck

Setelah sekitar satu bulan berusaha menyelesaikan buku ini, akhirnya hari Kamis lalu gue berhasil selesai bacanya. Buku yang direkomendasikan sister gue. Buku pertama yang gue baca tanpa pembatas buku. Buku tentang menemukan apa yang sebenarnya penting buat lu dan melepaskan hal-hal lainnya (yang tidak penting).

Berulang kali, gue mendapati Mark Manson menyebutkan kata f*ck dalam buku ini, membuat gue, salah satu pembaca bukunya berpikir kalau dia orang yang blak-blakan dan to the point. Tentunya tidak secara literal bahwa semua orang yang menyebutkan kata f*ck adalah orang yang demikian. Tapi secara keseluruhan, setelah membaca karyanya, gue merasa nggak ada yang Mark tutupi, dan apa yang dia sampaikan semuanya makes sense.

So, yuk kita mulai dengan mengutip beberapa paragraf yang mengena buat gue from the first few chapters.

"Look, this is how it works. You're going to die one day. I know that's kind of obvious, but I just wanted to remind you in case you'd forgotten…

DORIYAKI!

Setelah terakhir aku mengulas sebuah buku fiksi tentang kebijaksanaan (dapat dibaca di sini), sekarang aku ingin membahas tentang buku ciptaan Andori Andriani.
Buku ini menceritakan tentang kisah hidup Andori yang penuh lika-liku kehidupan. Jujur, setelah baca buku ini, pandanganku terhadap anak-anak broken home berubah. Awalnya, aku berpikir bahwa anak-anak dari keluarga yang broken home biasanya gedenya juga begitulah. Nothing's special. Tapi ternyata, anak ini, yang namanya Andori, berhasil merubah pola pikirku terhadap anak-anak yang bernasib seperti dia.

Aku membeli buku ini di awal tahun 2016. Saat aku pulang ke Indonesia, aku memesannya online. Selain buku ini, aku juga memesan beberapa buku lain. Tapi untuk sekarang, aku baru berhasil membaca Doriyaki saja. Buku ini kupesan sekitar 9 hari sebelum aku kembali ke Singapura. Namun ternyata, jadwal pengiriman bukuku tertunda, dikarenakan oleh satu buku lainnya yang belum ditemukan di stok buku mereka. Alhasil, aku kembali ke …

Online shop!

Selamat hari Rabu semuanya!

Hari ini, tepat sehari sebelum tanggal 30, gue memutuskan untuk menajalankan toko online!! Yay! Sudah terpikir sejak tahun lalu, tapi akhirnya baru dilaksanakan hari ini :( yah, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, kan? ;P
Oke, jadi disini gue bakal membahas tentang apa yang terjadi dibalik toko online yang siap gue bangun ini.
Hari ini gue pergi ke daerah Raffles Place dimana Merlion Statue berada. Gue mengajak seorang teman gue untuk ngebantuin gue yang lemah ini #apaseh. Gue minta dia bawa payung, biar bisa mayungin gue juga. Karena gue berencana untuk berangkat pukul tiga sore. Disini, pukul tiga itu sama seperti pukul dua-nya di Jakarta. Jadi mohon pengertiannya.

Kita berjalan-jalan dari Hotel Fullerton, menuju ke TKP. Tentu saja, gue sudah mengoleskan anti matahari juga. Tapi panasnya matahari tetap terasa di kulit. Nah, disaat-saat kepanasan begini, herannya, gue malah semangat foto-foto.

Sebelum bercerita lebih lanjut, gue mau kalian ta…