Skip to main content

Meeting New People Everyday

Yup, what a blessed week as usual.

Hari Senin, gue mempersiapkan diri buat ujian di hari Selasa. Gue stay di rumah dan belajar, sayangnya, hari ini juga, gue dapet kabar kalo jadwal ujiannya diganti jadi besok Kamis. Gue jadi males, dan akhirnya nonton "How I Met Your Mother" beberapa episodes. Malamnya, gue menyesal karena merasa ga produktif. Udah semingguan gue kecanduan nonton. Magically, ketika gue sadar gue udah kecanduan, hari-hari berikutnya gue langsung bisa kontrol (fiuh..)

Setelah gue pikir-pikir, kayanya gue mulai nonton serial film itu karena gue bosan awalnya. Gue baru aja pulang dari seneng-seneng (baca: liburan), tiba-tiba dihadapkan dengan kenyataan nunggu jatah ujian. Gue ga mau. Iseng-iseng gue mulai nonton satu episode. And you know where it leads to.


Image result for how i met your mother
How I Met Your Mother

Oke, nonton ga selamanya negatif. Gue pun belajar banyak dari sitkom Amerika ini, misalnya idiom-idiom. Namun, gue juga harus sadar kalo serial ini dibuat untuk menghibur. Gue ga seharusnya nontonin sepanjang hari.

Nah, kembali ke topik. Setelah gue sadar, di hari Selasa gue mulai menyesuaikan diri dengan nggak nonton HIMYM seperti hari-hari sebelumnya, dan kembali ke jalan yang tepat. Gue mulai fokus lagi ke persiapan ujian dan latihan.


Hari Rabu, gue belajar cara isi pulsa tanpa keluar rumah. Setelah itu, gue janji sama diri sendiri kalo setelah ujian gue bakal main di luar rumah lagi. Beberapa hari tinggal di rumah bikin gue takut matahari dan ketemu orang. I still keep my introverted self after all (which I love it, too)!

Image result for introvert cute



Hari Kamis, gue bangun pagi-pagi. Buat apa? Buat olah raga  Buat berdoa Buat ujian tentunya.

Ketika gue berjalan menuju tombol untuk membuka pagar, gue tercengang melihat pagar apartemen gue hilang. Kayanya memang dunia pengen gue keluar dari rumah, sampe pintu keluar dari gedung pun dibuat lebar-lebar.

Akhirnya setelah ujian berakhir, meskipun nggak begitu mulus, paling enggak, gue udah bebas. Dengan berakhirnya ujian gue, menandakan saat the extroverted Kennice takes the main role. Benar saja, setelah gue pulang sebentar buat ganti outfit dan makan siang, gue langsung cabut menuju Little India. Tanggal 18-19 Oktober kemarin adalah hari perayaan penganut agama Hindu, Deepavali. Gue berjalan menyusuri Little India untuk melihat suasana Deepavali.


Image result for little india singapore deepavali 2017
Little India di malam hari.
Sumber: images.google.com

Tujuan berikutnya: main bulu tangkis.
Gue mau ngaku kalo ini ide yang lumayan gila. Gue biasa main bulu tangkis, tapi kali ini gue bakal main sama orang-orang baru yang satupun gue nggak kenal. Jelas aja, gue main di sekolah lain. Kok bisa? Long story short, temen yang (long time ago) udah ajakin gue, lagi ga bisa ikutan dan yang gue ajak juga ga bisa. Tapi gue pengen main, jadi gue nekad dateng aja.

Ternyata gue jadi kenalan sama beberapa orang. Meskipun gue kaya anak hilang, tapi mereka welcome-in gue. Lesson learned: masuk ke dalam lingkungan sosial yang awkward itu seru juga. Semacam tantangan buat lu untuk mengubah situasi awkward jadi lebih enjoyable. Semuanya bersangkut-pautan. Kalo lu nya diem aja, ga bisa, tapi kalo lingkungannya yang ga nerima, ya menyerah aja, cari circle lain.

Hari Jumat, gue disambut lagi oleh gerbang tak berpagar saat hendak keluar rumah. Gue lempar senyuman kecil ke gerbang itu dan berangkat ke gereja untuk mengikuti sebuah event disana.

Sesampainya di gereja, gue mulai was-was lagi. Gue bingung mau ngumpul sama siapa. Akhirnya gue putuskan buat menghampiri dua orang yang sedang duduk di pinggir dan mulai ngobrol (tentu saja ditemani makanan). Seorang lagi datang dan bergabung dengan kita. Gue ketemu dan kenalan dengan orang baru lagi. Apalagi ternyata orang yang terakhir datang itu temen serumahnya temen sekelas gue. Gue kaya diingetin kalo Singapura itu super kecil.

Hari Sabtu, gue pergi ke sebuah event di dekat bandara Changi. Event ini berhubungan dengan kegiatan charity, yaitu olah raga dengan trampolin (charity jump). Lho, kok bisa? Ya, pokoknya bisa.

Jadi kegiatan ini sebenernya suatu fund-raising untuk keluarga dan orang-orang yang kurang beruntung di Singapura. Dengan sejumlah uang, kita bisa ikutan event ini dan sebagian dari uang tersebut bakal digunakan untuk tujuan itu. Di lain sisi, gue bersyukur karena gue dan temen-temen bisa ikutan gratis, karena ada organisasi yang beri kita sponsor buat ikutan event ini.

Singkatnya, di event ini gue seneng karena kayanya gue berhasil ngenalin temen gue ke temen gue yang lain, dan mereka cocok. Lesson learned: ternyata memperluas relasi orang itu bikin hepi juga. Win-win situation.

Sorenya gue janjian sama temen lama yang akhirnya bisa ketemuan lagi. Uniknya, di menit-menit terakhir, dia bilang bakal ajak adiknya. Gue okein aja.

Turns out, gue lumayan cocok sama adiknya juga. Kita sama-sama suka art and stuff, akhirnya gue jadi dapet kesempatan keliling NAFA (Nanyang Academy of Fine Arts) dengan tour guide, ya si adik ini. Gue bersyukur, ketemu orang baru lagi.

Hari Minggu, gue menatap tombol pembuka pagar di tembok dengan pandangan...

"what's this thing for?"

Image result for huh gif

Hari ini gue ada kegiatan di gereja lagi. Jadi gue berangkat lebih cepat karena lokasinya yang nggak begitu dekat dan jadwal bus yang jarang, buat menunggu di bus stop. Gue membayangkan gimana gue bakal meng-handle anak-anak kecil. Gue udah accept ajakan buat jadi semacam guru sekolah minggu hari ini.

Akhirnya gue sampai disana tepat waktu. Gue langsung menuju ke ruangan yang dimaksud. Tugas kita adalah untuk menemani anak-anak selama orang tua mereka mengikuti ibadat. Anak-anak akan diberi kegiatan yang nggak terlalu ribet dan diberi tahu makna injil yang sedang dibacakan hari itu, sekedar menghabiskan waktu selama kira-kira empat puluh menit, lalu mereka akan diantar kembali pada orang tua masing-masing di gereja. Gue dapet kesempatan buat kenalan lagi. Kali ini dengan "guru-guru sekolah minggu" yang lain dan anak-anak yang datang :)

Setelah satu minggu yang penuh kejutan ini berlalu, gue menyadari betapa dalam satu hari saja, banyak sekali hal yang bisa disyukuri. Buat yang selalu membaca blog gue, kembali gue ucapkan terima kasih, dan gue syukuri banget kehadiran kalian di blog gue. Buat yang baru pertama kali membaca di blog gue, welcome! Gue penasaran artikel mana yang punya makna pribadi buat kalian dan berharap gue bisa menghasilkan bacaan yang berkualitas secara konsisten untuk kalian semua.

Terima kasih! Sampe ketemu di artikel berikutnya!


P.S. Hari ini pagarnya sudah diperbaiki! Yasss




Comments

  1. Sebagai seorang introvert, gue tau gimana rasanya kalau temen deket kita itu nggak bisa hadir. Rasanya kayak anak ayam kehilangan induk! Gak tentu arah :')
    Tapi coba lihat... lu berhasil dan itu bagus! Dapet kenalan baru gitu asik dong ya. Andaikata lu diem dan membatasi diri... mungkin lu ga bisa main bulu tangkis; belum tentu lu dapet kesampatan buat main ke NAFA dengan tour guide :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha! Bener banget! Jadi kaya anak ayam nyasar 🐥🐥🐥
      Hehehe, betul juga tuh.. Kita emang harus bisa keluar dari zona nyaman, yah.. :"D
      Terima kasih sudah mampir lagi ya, bang Reza! xD

      Delete
  2. Enjoy your discovery, dude! You're already grown up :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Alfian! Thanks a lot :DD makasih udah mampir yah! Lain kali silakan mampir lagi, anggap aja blog sendiri (ahaha)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Book Review: The Subtle Art of Not Giving a F*ck

Setelah sekitar satu bulan berusaha menyelesaikan buku ini, akhirnya hari Kamis lalu gue berhasil selesai bacanya. Buku yang direkomendasikan sister gue. Buku pertama yang gue baca tanpa pembatas buku. Buku tentang menemukan apa yang sebenarnya penting buat lu dan melepaskan hal-hal lainnya (yang tidak penting).

Berulang kali, gue mendapati Mark Manson menyebutkan kata f*ck dalam buku ini, membuat gue, salah satu pembaca bukunya berpikir kalau dia orang yang blak-blakan dan to the point. Tentunya tidak secara literal bahwa semua orang yang menyebutkan kata f*ck adalah orang yang demikian. Tapi secara keseluruhan, setelah membaca karyanya, gue merasa nggak ada yang Mark tutupi, dan apa yang dia sampaikan semuanya makes sense.

So, yuk kita mulai dengan mengutip beberapa paragraf yang mengena buat gue from the first few chapters.

"Look, this is how it works. You're going to die one day. I know that's kind of obvious, but I just wanted to remind you in case you'd forgotten…

DORIYAKI!

Setelah terakhir aku mengulas sebuah buku fiksi tentang kebijaksanaan (dapat dibaca di sini), sekarang aku ingin membahas tentang buku ciptaan Andori Andriani.
Buku ini menceritakan tentang kisah hidup Andori yang penuh lika-liku kehidupan. Jujur, setelah baca buku ini, pandanganku terhadap anak-anak broken home berubah. Awalnya, aku berpikir bahwa anak-anak dari keluarga yang broken home biasanya gedenya juga begitulah. Nothing's special. Tapi ternyata, anak ini, yang namanya Andori, berhasil merubah pola pikirku terhadap anak-anak yang bernasib seperti dia.

Aku membeli buku ini di awal tahun 2016. Saat aku pulang ke Indonesia, aku memesannya online. Selain buku ini, aku juga memesan beberapa buku lain. Tapi untuk sekarang, aku baru berhasil membaca Doriyaki saja. Buku ini kupesan sekitar 9 hari sebelum aku kembali ke Singapura. Namun ternyata, jadwal pengiriman bukuku tertunda, dikarenakan oleh satu buku lainnya yang belum ditemukan di stok buku mereka. Alhasil, aku kembali ke …

Online shop!

Selamat hari Rabu semuanya!

Hari ini, tepat sehari sebelum tanggal 30, gue memutuskan untuk menajalankan toko online!! Yay! Sudah terpikir sejak tahun lalu, tapi akhirnya baru dilaksanakan hari ini :( yah, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, kan? ;P
Oke, jadi disini gue bakal membahas tentang apa yang terjadi dibalik toko online yang siap gue bangun ini.
Hari ini gue pergi ke daerah Raffles Place dimana Merlion Statue berada. Gue mengajak seorang teman gue untuk ngebantuin gue yang lemah ini #apaseh. Gue minta dia bawa payung, biar bisa mayungin gue juga. Karena gue berencana untuk berangkat pukul tiga sore. Disini, pukul tiga itu sama seperti pukul dua-nya di Jakarta. Jadi mohon pengertiannya.

Kita berjalan-jalan dari Hotel Fullerton, menuju ke TKP. Tentu saja, gue sudah mengoleskan anti matahari juga. Tapi panasnya matahari tetap terasa di kulit. Nah, disaat-saat kepanasan begini, herannya, gue malah semangat foto-foto.

Sebelum bercerita lebih lanjut, gue mau kalian ta…