Skip to main content

Misi Mau Update Blog Lagi

Yup, ini blog udah kaya proyek mangkrak. Nggak terasa udah tiga tahun lebih aku nggak posting. Kadang pengen posting tapi takut yang diposting nggak berfaedah. Tapi bukannya tujuan blog buat itu ya? Untuk mengungkapkan apa yang dirasakan, apa yang dialami. Menulis bukan sekedar media berbahasa, tapi untuk mengenali diri lebih jauh, tanpa berpikir terlalu panjang tentang apa yang ingin diungkapkan.

Menurutku, rajin nulis blog itu seperti layaknya streamers. Sisi kehidupanmu sehari-hari, menjadi terekspos di dunia maya. Bukan seperti penulis yang memang memiliki tujuan untuk menyelesaikan sebuah artikel sains, atau penulis cerita novel, atau penulis-penulis lain yang memiliki fokus. Bagiku, penulis blog mirip seperti seorang streamer. Mereka mendokumentasikan kegiatannya sehari-hari, tapi bukan diari. Mereka dapat berinteraksi dengan orang-orang yang membaca atau menonton kegiatan mereka sehari-hari, dan bertumbuh bersama para pembaca/penonton.

Bukan. Aku bukan seorang blogger. Update saja masih jarang-jarang, namun kebetulan aku telah memiliki blog sejak tahun 2014. Aku menyediakan wadah ini bagi diriku sendiri untuk menjadi tempat untuk mencurahkan pemikiran dan perasaan yang kualami.

Anyway, karena sekarang kita sudah dua tahun lebih melalui pandemi ini, mari kita awali new chapter di blog ini dengan sedikit update mengenai kehidupan penulis, yaitu saya sendiri :)

**

Hidup ini lucu. Kita dituntut untuk merancang kehidupan kita dari titik mula (saat ini/sekarang) hingga nantinya (usia tua/bahkan setelah meninggalkan dunia), dari umur 20 an awal, hingga akhirnya bisa independen secara finansial. Dari menikah, hingga menguliahkan anak. Dari lulus SMA, hingga mapan dalam karirnya. Namun, kita juga dituntut untuk menerima apapun yang akan terjadi nantinya, karena pastinya rencana kita tidak bisa terwujud 100% sesuai keinginan kita. Seolah-olah hidup ini berkata: "bermimpilah, dan lihat apa yang akan kulakukan dengan mimpimu".

Yang tadinya berencana untuk menetap di Jakarta dan memanjat tangga karir, tiba-tiba datanglah pandemi yang seolah membuat semua rencana berhamburan. Ketika keadaan membaik, harapanku pun menjulang, namun terhempas lagi karena datangnya varian baru flu yang lebih ganas.

Selesaikah kita sampai di titik ini, ketika hidup berkali-kali menghempaskan dan membuat kita berada di persimpangan, dimana kita harus membuat keputusan-keputusan sulit? Tentu tidak, kita bisa selalu beradaptasi dari kejadian-kejadian yang menerpa hidup kita. Kita bisa mengubah rencana dan jalan untuk menuju ke tujuan.

Tahun 2022 ini, aku memutuskan untuk mengikuti kemana hidup ini akan membawaku. Dari keputusan-keputusan kecil, seperti memberanikan diri untuk update blog kembali (yes! This needs a little courage), hingga keputusan besar  mengundurkan diri dari perusahaan pertama yang meng-hire saya secara full-time setelah tiga tahun bekerja disana.

Tidak ada yang menyangka aku akan mengundurkan diri secepat itu (aku sendiripun tidak), tentunya karena saat itu (awal tahun 2022) masih pandemi dan masih banyak orang yang sulit mendapatkan pekerjaan baru. Apalagi rencanaku berikutnya masih belum jelas. Semata-mata hanya mengandalkan kepasrahan dan kepercayaan bahwa hidup ini akan membawaku ke tempat/situasi yang (semoga) lebih baik lagi.

Aku pergi ke Australia untuk bekerja, menggunakan visa Work and Holiday.


Maret 2022, aku kembali ke kampung halaman dan mempersiapkan segala kebutuhan untuk dibawa ke Australia dan di bulan yang sama, aku telah sampai di Melbourne.

Mau ngapain di Melbourne? Nggak ngapa-ngapain, cuma transit aja bang. Aku menunggu di Tullamarine Airport selama kurang lebih lima jam, dini hari. Kemudian kita melanjutkan perjalanan ke Brisbane. Maka, di kota inilah kita memulai perjalanan Work and Holiday visa ini. Aku berangkat bersama kakakku, so I'm glad I'm not doing this alone :)

Aku akan menceritakan lebih banyak pengalamanku di blog ini nantinya. Silakan komen dibawah jika kamu memiliki ide konten-konten yang ingin dibahas, ya! I can't wait to share more with you all. Sembari menunggu postingan berikutnya, kamu bisa follow Instagramku di @hikennice🌿

Nah, jadi apa sebenarnya tujuanku bercerita tentang kejadian hidupku? Karena layaknya seorang blogger, aku pun ingin mulai membuat sebuah dokumentasi hidupku melalui tulisan di blog ini dan mudah-mudahan bisa berguna juga bagi para pembaca. Mohon diingat bahwa tulisan dalam blog ini semuanya berdasarkan pengalaman dan pendapat pribadi. Kamu boleh menyuarakan pendapat lain dan kita bisa berbeda pendapat, and I'm fine with that.

Selamat datang di blog saya, dimana kita bisa melupakan kehidupan nyata walau hanya sejenak, dan dimana kita bisa berbagi pikiran satu sama lain dengan baik dan sopan. Semoga kita bisa bertumbuh bersama-sama, ya!⭐





Comments

Popular posts from this blog

Embracing Long-Form Conversations: My Thoughts on Daniel Priestley and Steven Bartlett’s Insights

Hello everyone! Happy 2025! I hope you’re doing well. Today, I want to share my personal reflections on an interesting conversation between Daniel Priestley and Steven Bartlett from The Diary of a CEO . They discussed why podcasts and long-form, unscripted content are becoming so popular. This topic is definitely outside of my usual day-to-day—after all, I don't own a company, nor do I work in broadcasting. I’m a cook, but I still find this discussion very insightful. You can access the full video here . *** Why Do People Want Longer Content? We live in a world full of quick social media updates, be it in the form of shorts, reels, or something else. Personally, I enjoy the convenience of bite-sized videos. I can't deny that it feels so satisfying and entertaining at the same time (more on this maybe next time). But I’ve also noticed that short clips often lack depth. Daniel suggests that, because there’s so much confusion and debate about “misinformation,” people want longer, ...

Day 29: Who and What Adds Meaning

Who and what adds meaning to your life. Agustus, 2023 Tentunya sulit untuk menunjuk hanya satu orang saja. Orang-orang disekitarku selalu menambah meaning dalam hidupku. Sebagian besar datang dan pergi, terkadang kembali, kemudian hilang lagi. Apalagi semakin dewasa dan bertambah usia, sepertinya teman-teman semakin punya kesibukan. Termasuk aku sendiri. Jadi ujung-ujungnya hanya menyapa tipis-tipis di media sosial. Tapi nggak apa-apa, meskipun begitu, aku percaya setiap orang memiliki “fungsi”-nya masing-masing dalam hidupku. Mungkin aku nggak sadar makna kehadirannya pada waktu itu dan baru ngeh setelah beberapa tahun berlalu, atau mungkin saat ini sudah nggak ngobrol, tapi masih terkadang kontakan sedikit-sedikit. Ada banyak faktor yang menentukan peran seseorang dalam hidupku. Jadi, jika ditanya ‘siapa’, tentunya tergantung dari musim hidup yang sedang kujalani. Setiap musim, pemerannya berbeda-beda. Aku hampir selalu belajar sesuatu dari setiap orang yang kutemui, dan sedikit demi...

Day 30: My Childhood Ambition

Write about your childhood ambition. Image by Vecstock on Freepik Sejujurnya, aku tidak ingat mimpi apa yang kutulis di katalog kelulusan SD. Tapi ada satu mimpi yang pernah muncul di benakku saat SMA. Aku pernah ingin menjadi seorang pianis. Aku mulai belajar musik sejak SD, saat itu, aku memainkan organ. Aku mempelajari adanya konsep kunci-kunci dasar yang dapat kuhapalkan. Tapi dengan belajar dari kecil, bukan berarti aku menjadi seorang prodigy . Udah nggak pandai, masih malas pula kalo disuruh latihan. Kemudian beranjak SMA, aku mulai les piano dan memainkan beberapa lagu yang lebih sulit dari pada yang kumainkan saat SD. Aku juga melalui tes ABRSM ( Associated Board of the Royal Schools of Music ) grade 3 saat itu. Masih belum terlalu jauh, tapi melalui tes ABRSM memberiku sedikit trauma dengan musik. Aku lulus ujian dengan nilai merit , yaitu nilai dibawah distinction . Tapi untuk meraih nilai itu aku harus mengorbankan banyak hal. Banyak waktu yang terpakai karena aku over...