Skip to main content

Chit Chat & Pengalaman Ikut Ekskul Bikin Video Bareng Kevin Anggara!

Aku merombak total seluruh penampilan di blogku ini, supaya lebih terkesan simple dan lebih enak dibaca untuk para pembaca. Jadi, dengan tema biru-hitam ini, kuharap dapat membuat pembaca nyaman saat membaca di blogku :D sebelum memulai artikel-artikel liburanku, aku akan menceritakan terlebih dahulu mengenai Ekskul Kevin Anggara yang kuikuti bulan lalu. Sebagai salah satu peserta yang berhak hadir, aku ingin membagi pengalamanku melalui tulisan ini. Mulai baca, yuk! :)

Semuanya bermula dari blognya Kevin. Aku membaca artikelnya yang di upload pada tanggal 1 Juni 2015 itu. Artikel itu berisi tentang ekskul membuat video yang akan diadakan Kevin Anggara tanggal 28 Juni 2015. Kalau kamu kepo seperti apa artikelnya, klik aja link nya di sini! Di situ tertulis bagaimana cara untuk mengikutinya. Kujelaskan secara singkat saja, ya.

Kevin hanya akan memilih lima orang untuk mengikuti ekskulnya. Bagimana proses pemilihannya? Pertama, kamu harus memiliki blog, dan buku Kevin yang ke-2 (Student Guidebook for Dummies 2). Kedua, kamu harus mengepos ide video Instagram (durasi maksimal 15 detik) di blogmu dalam jangka waktu yang telah ditentukan (8-14 Juni 2015), dan dengan format yang telah ditentukan pula. Ketiga, kamu harus mengisi data diri dan link blog mu ke dalam link yang diberikan Kevin pada artikelnya. Keempat, kamu harus tweet di Twitter yang menandakan bahwa kamu telah mendaftar untuk mengikuti ekskulnya Kevin. Begitulah intinya.

Setelah membacanya, aku mulai memikirkan untuk ikut daftar. Jadi aku pun mencari ide. Hari demi hari berlalu, dan akhirnya, aku mendapat pencerahan. Saat itu, saudara-saudaraku yang masih kecil-kecil akan datang berkunjung. Jadi aku mulai menulis naskah tentang storytelling yang akan kulakukan dengan saudara-saudaraku. Begitu sadar, ternyata sudah tanggal 14 Juni! Jadi aku langsung menuliskan ideku di blog. Tak lupa, mengisi data di link yang disediakan Kevin, dan men tweet di Twitter. Selesai. Aku hanya tinggal menunggu hasilnya. Oya, kamu bisa lihat ideku di sini, ya :)

Entah kenapa, tapi aku merasa pasti bisa bertemu Kevin Anggara. Jadi aku tidak terlalu gugup menunggu hasilnya. Dan tibalah hari itu... Hari Rabu tanggal 17 Juni 2015. Di malam hari, aku mengecek blognya Kevin, tapi tidak ada artikel baru. Kemudian aku beralih ke Ask.fm nya, sama saja. Tidak ada tanda-tanda pengumuman. Akhirnya aku mengecek Twitter, ada tweet dari Kevin Anggara yang menyatakan lima orang peserta yang berhak mengikuti ekskul. Tidak ada namaku. Kemudian ku scroll ke atas, dan tiba-tiba kudapati username Twitterku terpampang sebagai pemenang pilihan dari tim Bukune!


Aaaahhh... Ternyata perasaanku tidak salah. Aku menjadi salah satu peserta yang berhak mengikuti ekskul bersama Kevin Anggara! Aku segera memberi tahu mamaku, dan tentu saja mama memperbolehkanku. Karena kebetulan kita memang akan ke Jakarta! Yeay!

Kira-kira tanggal 24 Juni 2015, aku mendapat email dari Bukune. Email itu berisi tentang informasi mengenai ekskul yang akan kuikuti besok tanggal 28. Hem... Isinya berupa poin-poin, mulai dari nomor satu sampai lima, yang memberitahukan lokasi acara, meeting point, susunan acara, dan memberitahu aku bahwa aku boleh mengajak seorang teman untuk datang ke acara ini. Oya, ternyata, para peserta juga diharapkan untuk mempresentasikan idenya dengan PowerPoint. Aku bingung. Untunglah, sebelum berangkat ke Jakarta, aku memutuskan untuk membawa flashdrive ku. Jadi aku bisa membuat PowerPoint nya di laptop, dan menyimpannya di flashdrive untuk kubawa nanti. Karena kurangnya waktu, aku merasa sedikit terburu-buru sebenarnya saat membuat PowerPoint. Jadi aku membuat PowerPoint di pagi hari, setelah itu aku berangkat bersama keluargaku untuk pergi. Aku sampai memikirkan betapa sedikit dan sederhananya PowerPoint milikku, karena aku tidak sempat memberi efek-efek khusus pada tulisan dan gambar di PowerPointku. Ada 7 slide di dalamnya. Judul - Premis - Sinopsis - Setting - Jumlah Pemain - Peralatan - Penutup. Kuharap tidak hanya aku yang memiliki sedikit slide, batinku. Nah, karena aku diperbolehkan membawa seorang teman, aku akan membawa seorang saudaraku yang tinggal di Tangerang.

Hari H
Siang itu, nampaknya sedikit mendung. Aku yang sedang on the way menuju ke lokasi dan tiba-tiba HPku berbunyi, telepon dari tim Bukune. Terdengar suara perempuan di seberang. Dia menanyakan di mana posisiku. Aku menjawabnya. Saat itu aku sedang berada di tol yang entah apa namanya *lupa*. Kemudian aku menanyakan jalan berikutnya pada dia, karena keluargaku sendiri bukan orang Jakarta, jadi masih kurang memahami seluk-beluk Kota Jakarta. Dia berjanji akan segera menghubungiku kembali, dan menutupnya. Well, I guess dia juga kurang memahami mengenai tol yang sedang kulalui ini :P hehe. Sesaat kemudian, dia mengirimkan pesan singkat melalui SMS. Menunjukkan jalan menuju ke lokasi dengan lebih detil. Akhirnya, aku dan saudaraku tiba juga di lokasi ekskul. Sayangnya, hujan mulai turun! Kami berdua segera menyeberang dan memasuki gedung yang bernama 'Paviliun 28' itu.

Suasana di dalam bangunan itu cukup ramai, dan cenderung sempit. Lalu aku segera melihat sekitar dari kiri ke kanan, untuk mencari wajah Kevin Anggara. Mungkin karena sikapku itu, sehingga ada seseorang yang kurasa merupakan tim Bukune menanyakan tujuan kami. Dan dia bisa langsung menebak bahwa aku dan saudaraku hendak mengikuti ekskulnya Kevin. Jadi kami pun pergi menuruti petunjuknya, ke lantai atas. Kulalui tangga yang sempit dan lumayan curam itu, kemudian sampailah ke depan pintu kaca ruangan yang bernuansa saloon, dengan kayu-kayu dan berbagai hiasan dinding yang beragam. Berbeda dengan lantai bawah. Ruangan ini lenih sunyi dan terang. Begitu kudorong pintu yang tembus pandang itu, tim Bukune dan Kevin segera menyambut kami. "Wah, sudah penuh", pikirku. Ternyata masih ada tempat tersisa di sebelah Kevin. Jadilah kami duduk di sebelah Kevin Anggara, bersama laptopnya. Kemudian, acara pun dimulai.

Setiap peserta memperkenalkan dirinya dengan menyebutkan nama, kelas berapa, dan tinggal dimana - kalau aku tidak salah ingat, sepertinya hanya menyebutkan tiga hal itu. Tibalah giliranku, "Namaku Kennice Setiadi...", dan suaraku sangat lucu. Karena pilek. Lalu kusebutkan terang-terangan bahwa aku sedang pilek, jadi mohon dimaklumi (jika suaraku seperti monster). Malu? Iyalah. Ada yang tertawa kecil saat itu, aku ingat, tapi entah siapa, saking malunya aku nggak berani lihat. Tapi aku merasa lebih tenang dengan mengungkapkannya. Lanjut, setelah perkenalan, para peserta kemudian mengumpulkan flashdrive di satu tempat. Kuletakkan flashdriveku dengan yang lainnya. Dan sepertinya flashdriveku ini yang paling menarik perhatian, karena imut. Bentuknya yang seperti telur berwarna biru tua dan putih, dengan gantungan kecil bertuliskan 'HP'. Otomatis, si Kevin mengambil milikku. "Ini duluan, deh. Punya siapa, nih?", katanya. Aku mengangkat tangan sedikit. Hahaha. Betapa konyolnya. Setelah edisi suara gendruwo, sekarang edisi maju pertama? Hmph, oke deh. Aku sudah mempersiapkan hati untuk maju dan tiba-tiba ada suara yang mengatakan, "nanti aja itu Kennice, kasihan barusan datang, dari Semarang lagi..", oh, tim Bukune rupanya. Hehe. Ya sudah, deh. Akhirnya aku maju terakhir. Dan dari pengamatanku, ternyata, laptopnya Kevin nggak bisa membuat PowerPoint nya full screen. Jadi apabila kuberi efek-efek pada tulisannya, tidak akan bisa terlihat. Karena Kevin menyetel PowerPoint nya dalam bentuk seperti saat kamu baru saja membuka PowerPoint. Tidak dalam bentuk full screen deh pokoknya. Aku sendiri bingung jelasinnya :D untung tidak kuberi efek-efek. Karena ternyata akan mubazir~ Oya, satu hal lagi, ternyata yang slidenya paling banyak justru milikku sendiri. Aku tidak menjelekkan yang lebih sedikit dariku, aku paham, bahwa PowerPoint buatanku kutambahi banyak gambar, jadi terlihat banyak. Jadi, intinya PowerPoint hanya sebagai sarana bagi seluruh peserta supaya dapat menyampaikan idenya dengan baik, kan? :) meski begitu, Kevin sempat bercanda, "Wah, ini pasti bikinnya lama". Dia mengatakan itu. Hahaha. Padahal rasanya nggak juga, sih. Hehe.

Perkiraan waktu presentasi setiap peserta adalah satu jam, sedangkan faktanya, kami hanya memerlukan waktu 20 menit. Jadi, kita semua lanjut ke sesi berikutnya, Kevin menceritakan ide-idenya. Ya itu yang di blog nya. Ada di artikel yang sudah kuberikan linknya di awal. Itulah ide-ide Kevin. Di sesi ini, Kevin juga mengulas satu-persatu ide-ide milik peserta, supaya video yang akan digarap peserta dapat berakhir baik nantinya. Ide-ide peserta lain juga banyak yang kreatif, lho! Aku salut deh :) hehe. Lalu berlanjut ke sesi berikutnya lagi, Kevin sharing tentang teknik dasar pembuatan video di Instagram. Dia mempraktekkannya mulai dari teknik pengambilan gambar, sampai editing. Dia remake videonya yang berjudul "Nggak Diajak" bersama dengan teman dekatnya, Giovander Louis. Kemudian mengeditnya di sebuah editor di laptopnya. Kalau nggak salah iMovie. Atau Final Cut Pro? Aku lupa. Hehehe. Dia juga memberi saran untuk laptop Windows, bisa menggunakan Sony Vegas Pro, atau Adobe Premiere. Dia juga memberi referensi aplikasi video editor pada HP. Untuk Apple, dia biasa menggunakan Videon, dan untuk Android, bisa menggunakan Viva Video. Karena Kevin sendiri mengaku tidak pernah menggunakan Android, jadi dia hanya bisa mengusulkan video editor yang memiliki rata-rata rate paling baik di internet.

Nggak cuma itu, setelah mengedit video, kita juga diajarkan bagaimana cara menyisipkan lagu atau sound effect. Tentunya, menggunakan video editor yang dipunyai Kevin dalam laptopnya. Tapi sebelumnya, kita juga mempelajari lagu apa saja yang memiliki hak cipta, dan bagaimana caranya menemukan sound effect yang tidak memiliki hak cipta, sehingga dapat kita gunakan dengan bebas di video kita. Setelah dirasa cukup, akhirnya tersisa waktu satu setengah jam sebelum buka bersama! Di jeda waktu itu, para peserta secara bergantian berfoto dengan Kevin dan Giovander Louis. Kita juga berfoto bersama, lho


Oya, ternyata, ada peserta yang sudah membuat buku, lho! Hebat, padahal lebih muda dariku. Hehehe. Semoga anak-anak Indonesia kemauan membaca dan menulisnya semakin tinggi, ya, kedepannya!

Akhirnya, satu setengah jam berlalu. Aku turun sebentar bersama saudaraku untuk ke toilet. Setelah itu, kembali naik lagi, Ternyata, di atas meja sudah disediakan minuman dan kolak. Aku mengambilnya. Kemudian berganti lagi, tahu goreng! Ditambah sambal! Wah.. Sayangnya, leherku sedang tidak enak. Jadi aku hanya mengambil tahu tanpa sambal. Lalu, hidangan terakhir adalaaahhh... Nasi bakar! Lengkap dengan krupuknya! Hap! Hap!

Setelah perut lumayan terisi, para peserta mulai berpamitan. Dan akhirnya kita pulang juga. Semoga semua ilmu yang kudapat di ekskul ini bisa berguna buat hobi video making ku deh! :D bagaimanapun, aku tidak menyesal telah mengikuti ekskul ini :) terima kasih Kevin Anggara dan tim Bukune! You guys inspired me!

Oya, setelah ekskul berakhir, setiap peserta wajib mengupload hasil video dalam jangka waktu lima hari sesuai ide yang telah mereka jabarkan di ekskul. Ingin tahu hasil karyaku? Silakan lihat di Instagramku, ya @kennicesetiadi! Jangan lupa follow! Sip? :)


Comments

  1. keren2 ken wkwk kamu diam2 tenyata pro masalah blogging ya, keep it up sista !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. Thank you, Ren :P u too! (y)

      Delete
  2. Your welcome ! hahaha pastinya ^^

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Book Review: The Subtle Art of Not Giving a F*ck

Setelah sekitar satu bulan berusaha menyelesaikan buku ini, akhirnya hari Kamis lalu gue berhasil selesai bacanya. Buku yang direkomendasikan sister gue. Buku pertama yang gue baca tanpa pembatas buku. Buku tentang menemukan apa yang sebenarnya penting buat lu dan melepaskan hal-hal lainnya (yang tidak penting).

Berulang kali, gue mendapati Mark Manson menyebutkan kata f*ck dalam buku ini, membuat gue, salah satu pembaca bukunya berpikir kalau dia orang yang blak-blakan dan to the point. Tentunya tidak secara literal bahwa semua orang yang menyebutkan kata f*ck adalah orang yang demikian. Tapi secara keseluruhan, setelah membaca karyanya, gue merasa nggak ada yang Mark tutupi, dan apa yang dia sampaikan semuanya makes sense.

So, yuk kita mulai dengan mengutip beberapa paragraf yang mengena buat gue from the first few chapters.

"Look, this is how it works. You're going to die one day. I know that's kind of obvious, but I just wanted to remind you in case you'd forgotten…

DORIYAKI!

Setelah terakhir aku mengulas sebuah buku fiksi tentang kebijaksanaan (dapat dibaca di sini), sekarang aku ingin membahas tentang buku ciptaan Andori Andriani.
Buku ini menceritakan tentang kisah hidup Andori yang penuh lika-liku kehidupan. Jujur, setelah baca buku ini, pandanganku terhadap anak-anak broken home berubah. Awalnya, aku berpikir bahwa anak-anak dari keluarga yang broken home biasanya gedenya juga begitulah. Nothing's special. Tapi ternyata, anak ini, yang namanya Andori, berhasil merubah pola pikirku terhadap anak-anak yang bernasib seperti dia.

Aku membeli buku ini di awal tahun 2016. Saat aku pulang ke Indonesia, aku memesannya online. Selain buku ini, aku juga memesan beberapa buku lain. Tapi untuk sekarang, aku baru berhasil membaca Doriyaki saja. Buku ini kupesan sekitar 9 hari sebelum aku kembali ke Singapura. Namun ternyata, jadwal pengiriman bukuku tertunda, dikarenakan oleh satu buku lainnya yang belum ditemukan di stok buku mereka. Alhasil, aku kembali ke …

Be Selective

Nah, kali ini aku mau ngomongin tentang pos mengenai cinta yang menye-menye yang biasa kita temui di timeline aplikasi chatting terkenal di Indonesia. Berikut contoh-contohnya:
"Pacar yg bikin betah itu pacar yg selalu punya banyak obrolan di setiap harinya. Selalu jujur & terbuka sama apa yg dia lakukan di hari itu."  "Cowok gentle tuh yg kl lg main sama ceweknya trs ketemu temen2nya bilang "kenalin pacar gue, dia emg gak sempurna tp gue sayang sm dia" :) <3" Sebelum kita membicarakan lebih jauh, aku ingin kalian memahami bahwa ini adalah pandanganku saja. Segala opini adalah hasil pemikiranku sendiri. Dan artikel ini dibuat tidak dengan tujuan untuk menyinggung pihak manapun :)

Hmm... Untuk memulainya, mari kita lihat pernyataan pertama lagi. Pernyataan ini sebenernya memang benar, menurutku. Benar, karena dalam hubungan yang sehat, kita memang harus terbuka dengan satu sama lain. Namun, tidaklah dibenarkan juga, jika kamu mengutarakan semuanya …