Skip to main content

Day 16: One Thing that I will Change in My Life if I Could

You are allowed to change one thing in your life. What will it be?

Image by rawpixel.com on Freepik

Disclaimer dulu ya. Bukan berarti aku nggak happy dengan kondisi/keadaanku saat ini, tapi to be realistic, tentunya selalu ada hal yang “alangkah baiknya jika…” dalam hidup ini. Tanpa mengecilkan nilai-nilai yang ada pada kenyataanya.

Ada hal yang baru akhir-akhir ini muncul di benakku. Aku merasa kurang pandai dalam mengolah kata-kata secara lisan. Jika ada satu hal yang ingin kuubah dari hidupku, mungkin aku ingin bisa lebih cakap dalam berbicara. Karena aku semakin sadar bahwa kemampuan untuk memiliki kemampuan itu sangat bermanfaat.

Banyak orang yang tidak suka menunggu respon yang lambat, atau jawaban yang tidak jelas dan to the point. Dengan memiliki kemampuan ini, aku rasa banyak masalah dapat terselesaikan dengan cepat dan bahkan dapat mencegah munculnya masalah, karena lebih sedikit kesalahpahaman yang mungkin terjadi.

Sulit bagiku untuk mengeluarkan pendapat secara spontan. Terkadang bahkan aku mengungkapkannya dengan emosi yang agresif tanpa disengaja.

Aku percaya setiap orang punya ruang untuk berkembang. Nampaknya ini hal yang harus kukembangkan dari diriku.

Kalo kamu, apa yang akhir-akhir ini ada di benakmu? Yang membuatmu resah?

Apa hal yang dapat kamu kembangkan untuk menyelesaikannya?


*.*.*

Jika kamu mau tahu lebih lanjut tentang 30 Day Writing Challenge yang aku jalani saat ini, kamu bisa klik link ini ya.





Comments

Popular posts from this blog

Embracing Long-Form Conversations: My Thoughts on Daniel Priestley and Steven Bartlett’s Insights

Hello everyone! Happy 2025! I hope you’re doing well. Today, I want to share my personal reflections on an interesting conversation between Daniel Priestley and Steven Bartlett from The Diary of a CEO . They discussed why podcasts and long-form, unscripted content are becoming so popular. This topic is definitely outside of my usual day-to-day—after all, I don't own a company, nor do I work in broadcasting. I’m a cook, but I still find this discussion very insightful. You can access the full video here . *** Why Do People Want Longer Content? We live in a world full of quick social media updates, be it in the form of shorts, reels, or something else. Personally, I enjoy the convenience of bite-sized videos. I can't deny that it feels so satisfying and entertaining at the same time (more on this maybe next time). But I’ve also noticed that short clips often lack depth. Daniel suggests that, because there’s so much confusion and debate about “misinformation,” people want longer, ...

Day 29: Who and What Adds Meaning

Who and what adds meaning to your life. Agustus, 2023 Tentunya sulit untuk menunjuk hanya satu orang saja. Orang-orang disekitarku selalu menambah meaning dalam hidupku. Sebagian besar datang dan pergi, terkadang kembali, kemudian hilang lagi. Apalagi semakin dewasa dan bertambah usia, sepertinya teman-teman semakin punya kesibukan. Termasuk aku sendiri. Jadi ujung-ujungnya hanya menyapa tipis-tipis di media sosial. Tapi nggak apa-apa, meskipun begitu, aku percaya setiap orang memiliki “fungsi”-nya masing-masing dalam hidupku. Mungkin aku nggak sadar makna kehadirannya pada waktu itu dan baru ngeh setelah beberapa tahun berlalu, atau mungkin saat ini sudah nggak ngobrol, tapi masih terkadang kontakan sedikit-sedikit. Ada banyak faktor yang menentukan peran seseorang dalam hidupku. Jadi, jika ditanya ‘siapa’, tentunya tergantung dari musim hidup yang sedang kujalani. Setiap musim, pemerannya berbeda-beda. Aku hampir selalu belajar sesuatu dari setiap orang yang kutemui, dan sedikit demi...

Day 30: My Childhood Ambition

Write about your childhood ambition. Image by Vecstock on Freepik Sejujurnya, aku tidak ingat mimpi apa yang kutulis di katalog kelulusan SD. Tapi ada satu mimpi yang pernah muncul di benakku saat SMA. Aku pernah ingin menjadi seorang pianis. Aku mulai belajar musik sejak SD, saat itu, aku memainkan organ. Aku mempelajari adanya konsep kunci-kunci dasar yang dapat kuhapalkan. Tapi dengan belajar dari kecil, bukan berarti aku menjadi seorang prodigy . Udah nggak pandai, masih malas pula kalo disuruh latihan. Kemudian beranjak SMA, aku mulai les piano dan memainkan beberapa lagu yang lebih sulit dari pada yang kumainkan saat SD. Aku juga melalui tes ABRSM ( Associated Board of the Royal Schools of Music ) grade 3 saat itu. Masih belum terlalu jauh, tapi melalui tes ABRSM memberiku sedikit trauma dengan musik. Aku lulus ujian dengan nilai merit , yaitu nilai dibawah distinction . Tapi untuk meraih nilai itu aku harus mengorbankan banyak hal. Banyak waktu yang terpakai karena aku over...