Skip to main content

Day 27: A Gift that I Cherish

Write about a gift you have always cherished.

Image by Freepik

Hadiah yang paling berkesan buatku adalah sebuah iPhone. Bukan karena mahalnya, tapi karena alasan dibalik hadiah itu. It's a thoughtful gift.

Tahun 2021, meskipun pandemi sudah sedikit lebih reda, tapi mobilitas rakyat masih belum kembali seperti sebelumnya. Saat masuk ke mall contohnya, aku masih harus membuka aplikasi “PeduliLindungi”, supaya bisa scan kehadiranku sebelum masuk.

Yang menyedihkan adalah hapeku saat itu sudah cukup tua, untuk mengakses aplikasi PeduliLindungi saja hampir tidak mampu. Dan ketika mampu, it’s gonna take like 5 minutes just to load the app.

Kemudian akhir tahun 2021, saat mas patjar sudah pindah ke Jakarta, aku pergi ke mall bersama dia dan mungkin karena kelamaan LDR, dia nggak ngeh dengan hapeku yang lemot. Jadi setelah itu, dia berusaha untuk memperbaiki hapeku, tapi tidak berhasil.

Besoknya, dia mengajakku untuk membeli hape. Dan yang berkesan buatku adalah spontanitas dia dibalik itu. Dia nggak nunggu saat aku ulang tahun di bulan berikutnya, atau nunggu momen-momen besar lainnya. Dia tahu aku butuh secepatnya dan berinisiatif untuk mendapatkannya secepat mungkin.

Selain karena berkesan, hadiah ini selalu menemani kegiatan sehari-hariku. Tiada hari tanpa hape. Jadi tentu saja hadiah ini berharga.

Karena kisah dibalik hadiah ini berkesan dan hadiah itu selalu kugunakan setiap hari, maka tentu saja hadiah ini menjadi hadiah yang paling berharga menurutku, saat ini.


*.*.*

Jika kamu mau tahu lebih lanjut tentang 30 Day Writing Challenge yang aku jalani saat ini, kamu bisa klik link ini ya.




Comments

Popular posts from this blog

Embracing Long-Form Conversations: My Thoughts on Daniel Priestley and Steven Bartlett’s Insights

Hello everyone! Happy 2025! I hope you’re doing well. Today, I want to share my personal reflections on an interesting conversation between Daniel Priestley and Steven Bartlett from The Diary of a CEO . They discussed why podcasts and long-form, unscripted content are becoming so popular. This topic is definitely outside of my usual day-to-day—after all, I don't own a company, nor do I work in broadcasting. I’m a cook, but I still find this discussion very insightful. You can access the full video here . *** Why Do People Want Longer Content? We live in a world full of quick social media updates, be it in the form of shorts, reels, or something else. Personally, I enjoy the convenience of bite-sized videos. I can't deny that it feels so satisfying and entertaining at the same time (more on this maybe next time). But I’ve also noticed that short clips often lack depth. Daniel suggests that, because there’s so much confusion and debate about “misinformation,” people want longer, ...

Notes on Naval Ravikant

I recently listened to another Chris Williamson's podcast. This time, it's with Naval Ravikant. I decided to write down the ideas that stood out to me. Naval speaks about life in a clear and practical way. He talks about making long-term decisions carefully, learning through iteration, handling stress and anxiety, and finding happiness without ego. His ideas combine philosophy and business thinking in a simple but powerful way. This post is a personal reference so I can return to these lessons and review them in the future. This is actually only half of the podcast content that I listened to, but it has already brought me so much clarity about life in general. Four-Year Decisions: The Compounding Effect of Commitment Naval often emphasizes that decisions requiring long-term commitment must be treated really seriously. A four-year decision is rarely just about four years because it compounds. For example, choosing a city to live in affects: The peer group you encounter Yo...

Suka Duka Anak Kos

Anak kos. Pasti banyak diatara kamu yang ngekos di kota atau negeri lain. Entah untuk SMA, atau perguruan tinggi. Hari ini, aku mau membahas suka-dukaku jadi mahasiswi di negeri lain, dalam hal tinggal sebagai anak kos. Untuk memulainya, kuceritakan terlebih dahulu gambaran tentang kos-kosan ku. Aku tinggal di sebuah apartemen di daerah Novena. Sekitar 8-10 menit berjalan kaki dari stasiun MRT. Disini, aku menyewa sebuah kamar untuk kutinggali sendiri. Tidak ada tuan rumah, hanya ada teman-teman serumah. Tapi sekitar tiga hari sekali, akan ada pembantu yang membersihkan rumah dan mengurus cucian baju. Nah, teman-teman serumahku ini ada yang berasal dari sesama Indonesia, ada juga yang dari Filipina. Karena akomodasi di Singapura lumayan mahal, apalagi daerah Novena, jadi aku menyewa kamar yang tidak ada WC-nya. Alias berbagi WC dengan teman serumah. Nah, mari kita mulai. Lagi asyik-asyiknya ngerjain tugas, tiba-tiba mesin cucinya berbunyi. Menandakan bahwa cucian telah selesai d...